Statistik

T. Hits : 382897
T. Visitor : 35277
Today : 101
Hits Today : 428
Member : 0
IP : 3.81.73.233
Proxy : -
Browser : Opera Mini
Banner
RBI P4TK BMTIsAKIP p4tk bmti
Login Member
Username:
Password :
Jajak Pendapat
Bagaimana Layanan Diklat di PPPPTK BMTI
Sangat Baik
Baik
Cukup
Kurang Baik
  Lihat

MODEL PENDIDIKAN KARAKTER DI SMK

Tanggal : 24-01-2019 15:07, dibaca 373 kali.

Sejalan dengan Undang-Undang No 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional pada Pasal 3 melalui pendidikan karakter diharapkan siswa dapat mengembangkan kemampuannya sehingga kelak mereka bisa menjadi manusia yang bertaqwa, jujur, adil, tanggung jawab, disiplin, kreatif, mampu bekerja dan berpikiran visioner. Tujuannya adalah agar nilai karakter dapat tertanam  dengan baik di hati siswa sehingga mereka memiliki bekal kemampuan soft skill yang baik saat memasuki dunia kerja dan mampu bersaing secara kompetitif dan bekerja dengan professional, baik dalam secara individu maupun dalam tim atau kelompok.

Penyimpangan perilaku di hampir semua sektor kehidupan telah menimbulkan kesadaran bahwa “pendidikan karakter” sangatlah penting. Penerapan sistem pendidikan kita telah gagal mencapai tujuannya, bahkan, kegagalan ini seolah tidak ada jalan keluar – krisis multidimensi. Pendidikan seharusnya menjadi solusi bagi suatu bangsa untuk menggapai kemajuan dan kemakmuran hakiki. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui model pendidikan karakter peserta didik di SMK. Selain itu untuk mengetahui hambatan yang dihadapi dan upaya yang dilakukan dalam mengatasi hambatan serta faktor pendukung pelaksanaan pendidikan karakter peserta didik tersebut.

Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Teknik pengambilan sampel dengan menggunakan purposive sampling dan snowball sampling sehingga terdapat informan kunci dan informan pendukung. Informan kunci dalam penelitian ini adalah wakil kepala sekolah bidang kurikulum, sedangkan informan pendukung adalah wakil kepala sekolah bidang manajemen mutu, wakil kepala sekolah bidang kesiswaan, guru agama islam, dan kepala bengkel. Data penelitian diperoleh melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Keabsahan data diperoleh melalui triangulasi metode dan sumber. Tahapan analisis interaktif melalui reduksi data, penyajian data, pengambilan kesimpulan dan verifikasi.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa : (1) perencanaan pendidikan karakter di SMK dilakukan melalui 2 proses. Pertama, dalam kegiatan pembelajaran guru mengembangkan nilai karakter dalam perangkat pembelajaran seperti silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP). Kedua, kegiatan di luar pembelajaran guru mengembangkan program penanaman nilai karakter dalam kegiatan pengembangan diri, budaya sekolah, dan kegiatan ekstrakurikuler; (2) pelaksanaan pendidikan karakter dilakukan melalui kegiatan pembelajaran, kegiatan pengembangan diri, budaya sekolah, dan kegiatan ekstrakurikuler. Dalam Perpres No. 87 tahun 2017, terdapat 18 aspek/nilai semangat kebangsaan, menghargai prestasi, komunikasi dan peduli sosial. Adapun nilai-nilai karakter yang sering ditanamkan di kegiatan pembelajaran adalah nilai jujur, toleransi, disiplin, mandiri, rasa ingin tahu, dan tanggung jawab. Sedangkan nilai-nilai karakter yang sering ditanamkan di kegiatan luar pembelajaran adalah nilai religius, nilai jujur, nilai disiplin, nilai cinta tanah air, nilai peduli lingkungan; (3) dalam evaluasi, guru menggunakan catatan pembinaan siswa dan buku tata tertib; (4) hambatannya adalah terbatasnya kontrol dari sekolah, media, dan lingkungan tempat tinggal, upaya yang dilakukan untuk mengatasi hambatan adalah menjalin komunikasi dan bekerjasama dengan orang tua peserta didik; (5) sedangkan faktor pendukungnya adalah pemerintah, sumberdaya manusia, sarana dan prasarana, kondisi lingkungan yang kondusif.

Latar Belakang

Pendidikan memiliki peran yang sangat penting, khususnya mengenai pendidikan karakter. Pembahasan mengenai pendidikan karakter menjadi wacana yang ramai dibicarakan dalam dunia pendidikan. Berbicara mengenai pendidikan memang tidak akan pernah ada habisnya. Berbagai masalah mengenai persoalan karakter muncul seiring dengan perkembangan zaman, seperti meningkatnya kekerasan di kalangan remaja, penggunaan bahasa dan kata-kata yang memburuk, semakin rendahnya rasa hormat kepada orang tua dan guru, perilaku merusak diri seperti penggunaan narkoba, alkohol, dan seks bebas. Serta fenomena-fenomena degradasi moral lainnya yang menempatkan pendidikan di Indonesia perlu mendapatkan perhatian khusus baik dari orang tua, sekolah, dan pemerintah. Mengutip perkataan William Kirkpatrick dalam Thomas Lickona (2013:1) menyatakan bahwa Persoalan mendasar yang dihadapi sekolah-sekolah kita sekarang adalah persoalan moral. Persoalan-persoalan lainnya bersumber dari persoalan ini. Bahkan reformasi akademis bergantung pada bagaimana kita mengedepankan karakter.

Pendidikan karakter di Indonesia memang belakangan ini mendapat perhatian dari masyarakat. Hal ini sudah menjadi masalah sosial yang hingga saat ini belum dapat diatasi secara tuntas. Berbagai persoalan tersebut memunculkan anggapan bahwa pelaksanaan pendidikan di sekolah ternyata belum mampu berkontribusi terhadap pembentukan seseorang untuk menjadi pribadi yang baik dan berkarakter. Kebutuhan akan adanya pendidikan yang dapat melahirkan manusia Indonesia sangat dirasakan penting karena degradasi moral yang terus-menerus terjadi pada generasi mudanya. Oleh karena itu, Penguatan pendidikan karakter (character education) dalam konteks sekarang sangat relevan untuk mengatasi krisis moral yang sedang melanda saat ini. Terlebih dengan dirasakannya berbagai ketimpangan hasil pendidikan dilihat dari perilaku lulusan pendidikan saat ini.

Padahal menurut para pakar dan pemerhati pendidikan, sebenarnya pendidikan karakter bukanlah hal yang baru di Indonesia, pendidikan karakter pernah diterapkan dengan nama pendidikan budi pekerti. Namun sejauh ini belum menunjukkan hasil yang optimal. Terlihat dari berbagai persoalan-persoalan moral yang terus memperlihatkan perilaku tidak berkarakter, seperti: meningkatnya pergaulan bebas, maraknya aborsi di kalangan remaja, narkoba, tawuran, perampokan oleh pelajar, kasus korupsi, ketidakjujuran dalam mengerjakan soal ujian, serta hilangnya rasa hormat terhadap orang yang lebih tua.

Demoralisasi ini tejadi karena proses pembelajaran cenderung mengajarkan pendidikan moral dan budi pekerti sebatas teks dan kurang mempersiapkan siswa untuk menyikapi dan menghadapi kehidupan yang kontradiktif. Dalam konteks pendidikan formal di sekolah, bisa jadi salah satu penyebabnya karena pendidikan di Indonesia lebih menitikberatkan kepada pengembangan intelektual atau kognitif semata, sedangkan aspek soft skill atau nonakademik sebagai unsur utama pendidikan moral belum diperhatikan.

Berdasarkan penelitian di Harvard University Amerika Serikat, ternyata kesuksesan seseorang tidak ditentukan semata-mata oleh pengetahuan dan kemampuan teknis (hard skill), akan tetapi lebih oleh kemampuan mengelola diri dan orang lain (soft skill). Penelitian ini mengungkapkan bahwa kesuksesan hanya ditentukan sekitar 20 persen oleh hard skill dan sisanya 80 persen oleh soft skill. Bahkan, orang-orang tersukses di dunia bisa berhasil dikarenakan lebih banyak didukung kemampuan soft skill daripada hard skill. Hal ini mengisyaratkan bahwa mutu pendidikan karakter peserta didik sangat penting untuk ditingkatkan (Masnur Muslih, 2011: 84).

Fakta lain yang menunjukkan situasi dan kondisi para pelajar, tawuran antar pelajar juga menyumbang tinggi daftar angka krisis moral pendidikan Indonesia. Salah satu contohnya yaitu tawuran antar pelajar yang terjadi di Ciputat, Tangerang Selatan Jumat (7/4/2017). Tak tanggung-tanggung dalam melakukan aksinya, beberapa diantara mereka bahkan membawa senjata tajam. Data lain menyebutkan per Februari 2017 telah terjadi dua tawuran lebih yang melibatkan pelajar Indonesia, salah satunya adalah tawuran antar siswa SMK Adi Luhur dan SMK Bunda Kandung. Akibat tawuran tersebut seorang siswa tewas akibat luka karena benda tajam.. Beberapa kasus mengenai perilaku amoral tersebut seperti meningkatnya penggunaan obat-obat terlarang di kalangan pemuda, merosotnya kesetiakawanan sosial, meningkatnya tindak kekerasan yang melibatkan pemuda, pergaulan bebas dan bahkan sampai pada tindakan aborsi, merebaknya pornografi dan porno aksi, membolos, hingga kurangnya rasa hormat terhadap orang yang lebih tua.

Fakta di atas menunjukkan bahwa ada kegagalan pada lembaga pendidikan dalam hal menumbuhkan manusia yang berkarakter atau berakhlak mulia. Karena apa yang diajarkan di sekolah tentang nilai-nilai kebaikan belum membentuk manusia yang berkarakter, artinya bahwa upaya dalam pencapaian tujuan pendidikan yang dilakukan oleh sekolah belum sepenuhnya tercapai. Selama ini pendidikan di sekolah hanya mengedepankan pencapaian akademik yang hanya membantu peserta didik menjadi cerdas dan pintar, dan sebaliknya kurang memperhatikan pendidikan karakter yang membantu mereka menjadi manusia yang baik.

Berdasarkan rentetan daftar kasus diatas, menunjukkan betapa mirisnya potret suram pendidikan di Indonesia. Namun demikian, tak bisa dibenarkan jika hanya menyalahkan lembaga pendidikan saja. Peran orang tua dalam mengawasi tumbuh kembang anak terutama dalam pesatnya perkembangan teknologi menjadi faktor pemicu yang tak kalah besar dalam mencegah munculnya tindakan amoral pada anak.

Bertitik tolak dari kondisi dan fenomena di atas, Kementerian Pendidikan Nasional telah mendeklarasikan pendidikan budaya dan karakter bangsa sebagai gerakan nasional. Pendidikan karakter ini harus dilaksanakan oleh setiap sekolah. Pendidikan karakter di sekolah ini bertujuan untuk meningkatkan mutu penyelenggaraan dan hasil pendidikan di sekolah yang mengarah pada pencapaian pembentukan karakter peserta didik. Salah satu sekolah yang sudah menerapkan pendidikan karakter adalah SMK.

Berdasarkan pra survei penelitian, pelaksanaan pendidikan karakter di SMK sebenarnya sudah diterapkan sejak lama bahkan sebelum pemerintah mencanangkan pendidikan budaya dan karakter bangsa sebagai gerakan nasional. Namun, dengan adanya pendidikan karakter penerapannya lebih baik dan terarah. SMK sangat serius dalam pembentukan dan pembinaan karakter peserta didik, berbagai upaya ditempuh oleh pihak sekolah guna menerapkan pendidikan karakter. Pendidikan karakter di SMK dalam pelaksanaannya terintegrasi pada setiap mata pelajaran dan program-program lain di luar proses kegiatan belajar mengajar (KBM). Pendidikan karakter secara eksplisit tidak tertuang dalam satu mata pelajaran tertentu, melainkan terintegrasi pada semua mata pelajaran dan kegiatan luar pembelajaran seperti kultur budaya sekolah, kegiatan ekstrakurikuler, dan kegiatan-kegiatan lainnya.

Melalui pendidikan karakter diharapkan peserta didik di SMK mampu mengembangkan dan meningkatkan kualitas kepribadian peserta didik serta secara mandiri dapat menggunakan pengetahuannya dan menginternalisasikan nilai-nilai karakter ke dalam perilaku sehari-hari. Berdasarkan fakta tersebut, maka judul penelitian yang tepat dalam penelitian ini adalah “Model Pendididikan Karakter di SMK”.

 

Perencanaan Pendidikan karakter di SMK

Perencanaan merupakan keseluruhan proses pemikiran penentuan semua aktivitas yang akan dilakukan pada masa yang akan datang dalam rangka mencapai tujuan. Maka dari itu diperlukan kemampuan untuk mengadakan visualisasi dan melihat ke depan guna merumuskan suatu pola tindakan untuk masa mendatang. Adanya perencanaan merupakan hal yang harus ada dalam setiap kegiatan, perencanaan dituangkan dalam konsep yang jelas. Bentuk perencanaan pendidikan karakter yang dilakukan baik dalam bentuk kegiatan pembelajaran maupun kegiatan luar sekolah seperti budaya sekolah dan kegiatan ekstrakurikuler dengan memasukkan dan pengintegrasian nilai-nilai karakter yang dikembangkan.

Pendidikan karakter melingkupi kegiatan memberdayakan peserta didik agar mampu berperilaku mandiri dan berbudi pekerti luhur dalam mengembangkan segala potensi yang dimiliki sehingga dapat menjadi pribadi yang cerdas secara intelektual dan cerdas secara moral. Mengingat begitu pentingnya pendidikan karakter membuat SMK turut serta melaksanakan pendidikan karakter. Hal ini sesuai dengan yang diungkapkan Heri Gunawan (2012: 224) menyatakan bahwa, pendidikan karakter secara terintegrasi didalam mata pembelajaran adalah pengenalan nilai-nilai, diperolehnya kesadaran akan pentingnya nilai-nilai, dan penginternalisasian nilai-nilai kedalam tingkah laku peserta didik sehari-hari melalui proses pembelajaran, baik yang berlangsung di dalam maupun di luar kelas pada semua mata pelajaran.

Sebagaimana yang telah dipaparkan sebelumnya bahwasanya perencanaan pendidikan karakter di SMK termuat di dalam kegiatan pembelajaran yang terintegrasi pada setiap mata pelajaran dan kegiatan luar pembelajaran seperti budaya sekolah dan ekstrakurikuler, dikarenakan belum ada mata pelajaran khusus mengenai pendidikan karakter. Perencanaan kegiatan pembelajaran pendidikan karakter di SMK pada proses dilakukan dengan mengembangkan program tahunan, program semester, silabus, dan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) dengan memasukkan nilai-nilai karakter yang di kembangkan. Dengan perencanaan maka kegiatan akan lebih terarah dalam pencapaiannya.

Adapun perencanaan pendidikan karakter di luar kegiatan pembelajaran sudah ada program kegiatan dan panitia dari guru untuk mengawasinya. Perencanaan kegiatan di luar pembelajaran disusun dan disesuaikan dengan kalender pendidikan. Sekolah dalam hal ini merencanakan dan menyusun kegiatan-kegiatan tersebut dan menanamkan nilai-nilai karakter yang dikembangkan. Perencanaannya disusun dengan wakil kepala sekolah bidang kesiswaan melalui rapat kerja guru dengan pembina kegiatan ektrakurikuler dan kegiatan-kegiatan lainnya. Sekolah membuat program dalam rangka menginternalisasikan nilai-nilai karakter di luar kegiatan pembelajaran dan mendidik peserta didik melalui kegiatan-kegiatan tersebut. Seperti: kemah pendidikan karakter, pendidikan religius, memotivasi peserta didik dengan mengundang pihak luar, sholat berjamaah di sekolah, dan lain sebagainya.

Berdasarkan pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa sebelum melaksanakan pendidikan karakter SMK melakukan perencanaan melalui penyusunan program dan kegiatan penanaman nilai-nilai karakter baik itu dalam kegiatan pembelajaran maupun dalam kegiatan luar pembelajaran. Dalam kegiatan pembelajaran perencanaan tersebut dituangkan dengan membuat perangkat pembelajaran seperti program tahunan, program semester, silabus, dan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) dengan memasukkan nilai-nilai karakter yang dikembangkan yang berpedoman pada perangkat pembelajaran yang telah dibuat. Sedangkan perencanaan dalam kegiatan luar pembelajaran, dalam hal ini sekolah menyusun program dan kegiatan penanaman nilai-nilai karakter dalam rangka menginternalisasikan nilai-nilai tersebut dalam kegiatan budaya sekolah dan kegiatan ekstrakurikuler. Walaupun terkadang dalam pelaksanaannya tidak sesuai dengan apa yang telah direncanakan tetapi guru tetap memasukkan nilai-nilai karakter dalam kegiatan tersebut.

 

Pelaksanaan Pendidikan Karakter di SMK

1) Pelaksanaan Pendidikan Karakter dalam Kegiatan Pembelajaran.

Pelaksanaan merupakan kegiatan untuk merealisasikan rencana menjadi tindakan nyata dalam rangka mencapai tujuan secara efektif dan efisien sehingga akan memiliki nilai dan hasil yang memuaskan. Dalam pelaksanaannya pendidikan karakter merupakan kegiatan inti dari pembentukan karakter pada peserta didik. Pelaksanaan pendidikan karakter yang termuat dalam kegiatan pembelajaran pada proses pelaksanaannya selama ini terintegrasi di setiap mata pelajaran dengan memasukkan nilai-nilai karakter.

Proses pelaksanaan pendidikan karakter itu sendiri tidak harus ditempatkan di awal, di tengah, atau di akhir pembelajaran, karena semua itu tergantung situasi dan kondisi di kelas. Dengan demikian, kegiatan pembelajaran selain untuk menjadikan peserta didik menguasai kompetensi materi yang ditargetkan, juga dirancang dan ditargetkan untuk menjadikan peserta didik mengenal, menyadari, peduli, dan menginternalisasikan nilai-nilai dan menjadikannya perilaku. Melalui kegiatan pembelajaran diharapkan peserta didik dapat menjadi pribadi yang cerdas secara intelektual dan cerdas secara moral.

Dalam pelaksanaannnya di SMK, guru melaksanakan kegiatan pembelajaran dengan menanamkan nilai-nilai karakter pada peserta didik yang berpedoman pada 18 nilai karakter budaya bangsa. Namun berdasarkan hasil dokumentasi nilai karakter yang sering ditanamkan dalam kegiatan pembelajaran, yaitu: jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, mandiri, rasa ingin tahu, tanggung jawab.

Dilihat dari penjabaran mengenai nilai-nilai karakter yang sering ditanamkan guru dalam pembelajaran, maka dapat disimpulkan bahwa di SMK telah mengintegrasikan nilai-nilai karakter kedalam kegiatan pembelajaran. Hal ini terlihat dari hasil observasi, wawancara, dan dokumentasi terkait dengan penanaman nilai-nilai karakter yang ditanamkan guru. Adapun nilai-nilai yang sering ditanamkan guru adalah jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, mandiri, rasa ingin tahu, tanggung jawab.

 
2) Pelaksanaan Pendidikan Karakter di Luar Kegiatan Pembelajaran.

Pelaksanaan pendidikan karakter dalam menanamkan nilai-nilai karakter tidak hanya melalui kegiatan pembelajaran, akan tetapi juga melalui kegiatan luar pembelajaran seperti pengembangan diri dan budaya sekolah yang mencakup kegiatan intrakurikuler dan kegiatan ekstakurikuler. Pendidikan karakter juga melingkupi kegiatan memberdayakan peserta didik agar mampu mengembangkan dan mengoptimalkan potensi yang dimiliki peserta didik. Menurut Kementrian Pendidikan Nasional (2011: 15) menyatakan bahwa, pengembangan budaya sekolah dan pusat kegiatan belajar yang dilakukan melalui kegiatan pengembangan diri, meliputi: kegiatan rutin, kegiatan spontan, keteladanan, dan pengkondisian. Hal ini sesuai dengan apa yang telah dilaksanakan SMK dalam mengembangkan kegiatan pengembangan diri dan budaya sekolah.

Pendidikan karakter di SMK dalam kegiatan di luar pembelajaran penanaman nilai karakter dan budaya bangsa melalui budaya sekolah mencakup kegiatan intrakurikuler dan ekstrakurikuler agar dapat membentuk karakter dan melatih soft skill peserta didik. Melalui kegiatan yang beragam diharapkan dapat mendukung berjalannya pelaksanaan pendidikan karakter dengan baik. Adapun nilai-nilai yang sering ditanamkan dalam kegiatan di luar pembelajaran adalah religius, jujur, disiplin, cinta tanah air, dan peduli lingkungan.

Berdasarkan pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan pendidikan karakter dalam menanamkan nilai-nilai karakter di luar kegiatan pembelajaran melalui kegiatan pengembangan diri di sekolah seperti budaya sekolah, kegiatan intrakurikuler dan kegiatan ekstarkurikuler telah dilaksanakan SMK. Melalui kegiatan-kegiatan tersebut diharapkan dapat mengembangkan dan mengoptimalkan potensi yang dimiliki peserta didik. Sehingga dapat mendukung pelaksanaan pendidikan karakter dengan baik.

 

Evaluasi Pelaksanaan Pendidikan Karakter di SMK

Evaluasi pelaksanaan pendidikan karakter membutuhkan penilaian khusus, penilaian ini dilakukan untuk memperoleh informasi secara objektif, berkelanjutan dan menyeluruh tentang proses dan hasil yang dicapai, sehingga nantinya digunakan sebagai dasar untuk menentukan tindakan selanjutnya. Menurut Doni Koesoema (2012: 82) bahwa, salah satu metode agar pendidikan karakter dapat berlangsung terus menerus dan menjadi semakin baik adalah memiliki sistem evaluasi pendidikan karakter secara berkelanjutan. Sistem evaluasi ini mesti memotret sekolah sebagai lembaga pendidikan, mengevaluasi program yang didesain dan dibuat, serta memiliki sitem evaluasi individual secara berkelanjutan untuk melihat sejauh mana setiap individu sungguh telah tumbuh dan berkembang dalam pembentukan diri menjadi berkarakter.

Evaluasi pelaksanaan pendidikan karakter dilakukan untuk mengukur apakah peserta didik sudah memiliki satu atau sekelompok karakter yang ditetapkan oleh sekolah dalam kurun waktu tertentu. Karena itu, substansi evaluasi dalam konteks pendidikan karakter adalah upaya membandingkan perilaku peserta didik dengan standar indikator karakter yang ditetapkan oleh guru atau sekolah. Sekolah dalam hal ini menentukan indikator-indikator keberhasilan dan menilai keseluruhan program untuk melihat keberhasilan program pendidikan karakter sesuai dengan visi-misi yang ingin dicapai. Oleh karena itu, harus ada sistem evaluasi untuk menilai sejauh mana program pendidikan karakter itu berhasil diterapkan.

Berdasarkan hasil penelitian melalui observasi, dokumentasi, dan wawancara. Dalam penilaian kompetensi, guru membagi teknik penilaian menjadi 3 yaitu; teknik tertulis, teknik praktek, penugasan kelompok maupun mandiri. Guru juga melakukan penilaian karakter peserta didik dalam kegiatan pembelajaran yaitu dengan menggunakan pedoman evaluasi aspek kognitif dan afektif yang mengacu pada nilai-nilai karakter dan budaya bangsa. Pedoman evaluasi ini terdapat satu lembar tersendiri mengenai lembar catatan pembinaan siswa. Setiap guru memiliki lembar catatan pembinaan siswa untuk menilai karakter peserta didik pada setiap standar kompetensi yang diajarkannya.

Prosedur evaluasinya dengan menganalisa program dengan pelaksanaannya, melihat sikap dan tingkah laku peserta didik, dan dengan lembar evaluasi dan pengamatan sikap. Guru wajib mengadakan penilaian dan ada format penilaian yang nantinya akan disampaikan kepada kepala sekolah dan kemudian penilaiannya akan digabungkan dengan nilai akademis. Hal ini sesuai dengan yang diungkapkan wakil kepala sekolah bidang kesiswaan bahwa Prosedur evaluasi pendidikan karakter dilakukan dengan melihat catatan ketertiban seperti: buku absensi, buku keterlambatan, penskoran, dan lain sebagainya. Dalam pembelajaran evaluasi dilakukan melalui penilaian dalam kompetensi dasar (KD), dan pengamatan perilaku siswa. Adapun format penilaian atau instrumen yang digunakan dalam mengevaluasi kegiatan pembelajaran bisa dilihat dalam buku B atau buku penilaan perilaku peserta didik yang di dalamnya berisi laporan absensi belajar peserta didik, hasil penilaian, catatan pembinaan peserta didik, dan lain sebagainya. Sedangkan dalam mengevaluasi pelaksanaan pendidikan karakter di luar kegiatan pembelajaran dilakukan dengan pengamatan perilaku peserta didik, absensi pelanggaran, buku keterlambatan, penskoran, yang semuanya tertuang dalam buku tata tertib siswa SMK. Artinya peserta didik yang melakukan pelanggaran akan mendapatkan poin atau penilaian dari guru.

Berdasarkan hasil observasi dan wawancara yang dilakukan peneliti menunjukkan bahwa perilaku siswa sudah terlihat pembiasaan sesuai dengan nilai karakter dan budaya bangsa yang diharapkan, misalnya dari hasil wawancara dengan guru menyebutkan bahwa nilai karakter siswa sudah terlihat. Hal ini diwujudkan dalam bentuk kegiatan pembelajaran seperti: membiasakan hadir tepat waktu, berdoa sebelum dan sesudah pelajaran, tidak menyontek, larangan membawa alat komunikasi saat kegiatan pembelajaran, ulangan dan ujian, memelihara lingkungan kelas, pelaksanaan tugas piket secara teratur. Adapun dalam bentuk kegiatan di luar pembelajaran seperti: merayakan hari besar nasional dan keagamaan, menegakkan aturan dengan memberikan sanksi, sholat dzuhur berjamaah, dan lain sebagainya.

Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa evaluasi pelaksanaan pendidikan karakter di SMK telah dilaksanakan. Hal ini terbukti dengan adanya format penilaian atau instrumen yang digunakan dalam mengevaluasi pendidikan karakter. Penilaian karakter dilakukan baik itu dalam kegiatan pembelajaran maupun kegiatan luar pembelajaran.

 

Faktor Penghambat Pelaksanaan Pendidikan Karakter di SMK

Berdasarkan hasil penelitian baik melalui observasi dan wawancara ada beberapa hambatan yang dihadapi oleh SMK dalam pelaksanaan pendidikan karakter, hambatan yang dialami pun beragam, diantaranya:

  1. Pemahaman warga sekolah yang berbeda tentang pendidikan karakter, sehingga butuh kesabaran dan kerja keras dari pihak sekolah dalam upaya menyamakan persepsi agar pelaksanaan pendidikan karakter sesuai dengan yang diharapkan.
  2. Terbatasnya kontrol dari sekolah dan faktor lingkungan siswa tinggal. Dalam hal ini pihak sekolah tidak dapat memantau kegiatan anak di lingkungan tempat tinggal. Hal ini dikarenakan peserta didik lebih banyak menghabiskan waktu di rumah, sehingga guru belum dapat optimal dalam memantau kegiatan peserta didik di lingkungan tempat tinggal.
  3. Karakter tempat tinggal yang kurang baik dan kurangnya perhatian orang tua terhadap peserta didik, merupakan faktor penghambat pembentukan karakter peserta didik.
  4. Tidak mudah membimbing peserta didik untuk memiliki karakter yang diharapkan. Karena karakter peserta didik yang berbeda-beda dan keterbatasan guru dalam mengamati karakter peserta didik menjadikan guru belum optimal dalam menilai karakter peserta didik.

Dari beberapa hambatan diatas, hambatan yang sering dialami guru dalam pencapaian pendidikan karakter adalah pengaruh media dan kondisi lingkungan tempat tinggal peserta didik yang merupakan penghambat menjadikan kurang optimalnya guru dalam memantau kegiatan peserta didik di lingkungan tempat tinggal, sehingga karakter yang kurang baik yang dibawa dari lingkungan tempat tinggal ke sekolah dapat mempengaruhi karakter peserta didik lainnya. Di lingkungan tempat tinggal peserta didik lebih banyak berinteraksi dengan masyarakat, sehingga karakter lingkungan tempat tinggal peserta didik lebih mendominasi.

Dari pernyataan di atas, terlihat bahwa dalam pelaksanaan pendidikan karakter di SMK mengalami beberapa hambatan, adapun hambatan yang dialami tersebut diantaranya adalah pengaruh media dan lingkungan tempat tinggal peserta didik yang kurang baik. Akan tetapi, walaupun mengalami beberapa hambatan sekolah tetap berusaha dan bekerja keras dalam menanamkan nilai-nilai karakter pada peserta didiknya.

 

Upaya dalam Mengatasi Hambatan Pelaksanaan Pendidikan Karakter di SMK

Setiap proses pelaksanaan pendidikan karakter baik di dalam kegiatan pembelajaran maupun di luar kegiatan pembelajaran selalu menemui hambatan-hambatan. Dengan adanya hambatan yang dialami upaya-upaya yang dilakukan untuk mengatasi hambatan-hambatan tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Pihak sekolah saling berkoordinasi, musyawah, dan mengingatkan apabila ada hambatan dalam pelaksanaan pendidikan karakter. Tentunya dengan upaya saling kerjasama dan menyamakan persepsi warga sekolah agar pelaksanaan pendidikan karakter sesuai dengan yang diharapkan.
  2. Menjalin komunikasi dengan orang tua/wali murid tentang perkembangan peserta didik. Sejauh mana sikap dan perilaku peserta didik ketika berada di rumah.
  3. Perlunya dukungan, perhatian, dan pengawasan dari orang tua dalam pembentukan karakter peserta didik. Karena pendidikan karakter bukan hanya tanggung jawab guru semata, melainkan tanggung jawab bersama agar apa yang di terapkan disekolah bisa sejalan dengan lingkungan tempat tinggal.
  4. Memberikan nasehat terhadap peserta didik tentang pentingnya pendidikan karakter dan dibutuhkan kesabaran serta kerja keras dari seluruh warga sekolah dalam membentuk karakter peserta didik yang beragam.

Walaupun mengalami beberapa hambatan, sekolah telah mengupayakan untuk mengatasi hambatan tersebut. Terbukti dengan adanya upaya yang dilakukan oleh pihak sekolah, maka pendidikan karakter yang telah dilaksanakan sekolah pada peserta didik sudah tercapai. Sehingga dapat disimpulkan bahwa SMK telah melaksanakan pendidikan karakter pada peserta didik.

 

Faktor Pendukung Pelaksanaan Pendidikan Karakter di SMK

Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) merupakan kebijakan pendidikan yang tujuan utamanya adalah untuk mengimplementasikan Nawacita Presiden Joko Widodo – Jusuf Kalla dalam sistem pendidikan nasional. Kebijakan PPK ini terintegrasi dalam Gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM) yaitu perubahan cara berpikir, bersikap, dan bertindak menjadi lebih baik. Nilai-nilai utama PPK adalah religius, nasionalis, mandiri, gotong royong, integritas. Nilai-nilai ini  ingin  ditanamkan  dan dipraktikkan melalui sistem pendidikan nasional agar diketahui, dipahami, dan diterapkan di seluruh sendi kehidupan di sekolah dan di masyarakat. PPK lahir karena kesadaran akan tantangan ke depan yang semakin kompleks dan tidak pasti, namun sekaligus melihat ada banyak harapan bagi masa depan bangsa. Hal ini menuntut lembaga pendidikan untuk mempersiapkan peserta didik secara keilmuan dan kepribadian, berupa individu-individu yang kokoh dalam nilai-nilai moral, spiritual dan keilmuan. Memahami latar belakang, urgensi, dan konsep dasar PPK menjadi sangat penting bagi kepala sekolah agar dapat menerapkannya sesuai dengan konteks pendidikan di daerah masing-masing.

Keberhasilan pelaksanaan pendidikan karakter di SMK tidaklah lepas dari faktor-faktor pendukung seperti:

  1. Dari segi kebijakan pemerintah, dana, sumberdaya manusia (SDM), sarana dan prasarana atau fasilitas sekolah yang mendukung pelaksanaan pendidikan karakter memudahkan sekolah untuk menjalankan kebijakan dan langkah yang di ambil dalam pelaksanaan pendidikan karakter.
  2. Kegiatan yang sudah terprogram, bapak/ibu guru sudah mulai melaksanakan, sosialisasi pendidikan karakter dan dukungan dari pengawas sekolah.
  3. Situasi yang kondusif, dukungan dari semua warga sekolah, tempat yang tersedia atau layak, hal ini memudahkan pelaksanaan pendidikan karakter di SMK.
  4. Dari sarana dan prasarana, sumberdaya manusia (SDM), kepemimpinan, dan keteladan dari para guru sangat membantu pelaksanaan pendidikan karakter.
  5. Kondisi lingkungan yang kondusif, serta dukungan dari seluruh warga sekolah.

Dari pernyataan di atas, dapat disimpulkan bahwa penunjang pelaksanaan pendidikan karakter di SMK adalah pemerintah yang mendukung pendidikan karakter, sumberdaya manusia yang memadai, kelengkapan sarana dan prasarana sekolah, kegiatan-kegiatan yang rutin dan terprogram, serta kondisi lingkungan yang kondusif merupakan faktor pendukung pelaksanaan pendidikan karakter dalam membentuk karakter peserta didik.

 

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan mengenai pelaksanaan pendidikan karakter di SMK, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :
1. Perencanaan
Perencanaan pendidikan karakter di SMK dilakukan melalui 2 proses. a). Melalui kegiatan pembelajaran. b). Melalui kegiatan di luar pembelajaran. Pendidikan karakter melalui kegiatan pembelajaran guru mengembangkan 18 nilai karakter bangsa dalam perangkat pembelajaran seperti silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP). Sedangkan pendidikan karakter melalui kegiatan di luar pembelajaran guru mengembangkan program penanaman nilai karakter melalui kegiatan pengembangan diri, budaya sekolah dan kegiatan ekstrakurikuler.


2. Pelaksanaan
Pelaksanaan pendidikan karakter di kegiatan pembelajaran terintegrasi pada setiap mata pelajaran. Dalam kegiatan pembelajaran guru memasukkan 18 nilai karakter bangsa dalam semua mata pelajaran. Namun dalam pelaksanaannya, nilai-nilai karakter yang sering ditanamkan di kegiatan pembelajaran, seperti: (1) jujur (2) toleransi, (3) disiplin, (4) kerja keras, (5) mandiri, (6) rasa ingin tahu, dan (7) tanggung jawab. Sedangkan di luar kegiatan pembelajaran masuk ke dalam bentuk kegiatan pengembangan diri seperti: kegiatan rutin, kegiatan spontan, keteladanan, dan pengkondisian. Serta budaya sekolah, kegiatan intrakurikuler, dan kegiatan ekstarkurikuler. Adapun nilai-nilai karakter yang sering ditanamkan di kegiatan di luar pembelajaran, seperti: (1) religius, (2) jujur, (3) disiplin, (4) cinta tanah air, dan (5) peduli lingkungan.

3. Evaluasi
Evaluasi pendidikan karakter membutuhkan penilaian khusus. Penilaian dilakukan untuk memperoleh informasi secara objektif, berkelanjutan, dan menyeluruh sehingga nantinya digunakan sebagai dasar untuk menentukan tindakan selanjutnya. Evaluasi dilakukan untuk mengukur apakah peserta didik sudah memiliki satu atau sekelompok karakter yang ditetapkan oleh sekolah. Karena substansi evaluasi dalam konteks pendidikan karakter adalah upaya membandingkan perilaku peserta didik dengan standar indikator karakter yang ditetapkan oleh guru atau sekolah. Sekolah dalam hal ini menentukan indikator-indikator keberhasilan dan menilai keseluruhan program untuk melihat keberhasilan program pendidikan karakter sesuai dengan visi-misi yang ingin dicapai.

Adapun format penilaian atau instrumen yang digunakan dalam mengevaluasi kegiatan pembelajaran bisa dilihat dalam buku B atau buku penilaan perilaku peserta didik yang di dalamnya berisi laporan absensi belajar peserta didik, hasil penilaian, catatan pembinaan peserta didik, dan lain sebagainya. Sedangkan dalam mengevaluasi pendidikan karakter di luar kegiatan pembelajaran dilakukan dengan pengamatan perilaku peserta didik, absensi pelanggaran, buku keterlambatan, penskoran, yang semuanya tertuang dalam buku tata tertib siswa SMK.

4. Faktor Penghambat Pelaksanaan Pendidikan Karakter di SMK
Meskipun proses pelaksanaan pendidikan karakter telah disusun secara matang, akan tetapi dalam pelaksanaannya tetap saja berjalan tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. Hambatan-hambatan yang dihadapi pun beragam. Berdasarkan hasil penelitian baik melalui observasi, wawancara, maupun dokumentasi ada beberapa hambatan yang dihadapi oleh SMK dalam melaksanakan pendidikan karakter, diantaranya:

  1. Pemahaman warga sekolah yang berbeda tentang pendidikan karakter, sehingga butuh kesabaran dan kerja keras dari pihak sekolah dalam upaya menyamakan persepsi agar pelaksanaan pendidikan karakter sesuai dengan yang diharapkan.
  2. Terbatasnya kontrol dari sekolah dan faktor lingkungan siswa tinggal. Dalam hal ini pihak sekolah tidak dapat memantau kegiatan anak di lingkungan tempat tinggal. Hal ini dikarenakan peserta didik lebih banyak menghabiskan waktu di rumah, sehingga guru belum dapat optimal dalam memantau kegiatan peserta didik di lingkungan tempat tinggal.
  3. Karakter tempat tinggal yang kurang baik dan kurangnya perhatian orang tua terhadap peserta didik, merupakan faktor penghambat pembentukan karakter peserta didik.
  4. Tidak mudah membimbing peserta didik untuk memiliki karakter yang diharapkan. Karena karakter peserta didik yang berbeda-beda dan keterbatasan guru dalam mengamati karakter peserta didik menjadikan guru belum optimal dalam menilai karakter peserta didik.

5. Upaya dalam Mengatasi Hambatan Pelaksanaan Pendidikan Karakter di SMK
Proses pelaksanaan pendidikan karakter baik dalam kegiatan pembelajaran maupun kegiatan luar pembelajaran selalu menemui hambatan-hambatan. Oleh karena itu, perlu adanya upaya-upaya yang dilakukan untuk mengatasi hambatan-hambatan tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Pihak sekolah saling berkoordinasi, musyawah, dan mengingatkan apabila ada hambatan dalam pelaksanaan pendidikan karakter. Tentunya dengan upaya saling kerjasama dan menyamakan persepsi warga sekolah agar pelaksanaan pendidikan karakter sesuai dengan yang diharapkan.
  2. Menjalin komunikasi dengan orang tua/wali murid tentang perkembangan peserta didik. Sejauh mana sikap dan perilaku peserta didik ketika berada di rumah.
  3. Perlunya dukungan, perhatian, dan pengawasan dari orang tua dalam pembentukan karakter peserta didik. Karena pendidikan karakter bukan hanya tanggung jawab guru semata, melainkan tanggung jawab bersama agar apa yang diterapkan di sekolah bisa sejalan dengan lingkungan tempat tinggal.
  4. Memberikan nasehat terhadap peserta didik tentang pentingnya pendidikan karakter dan dibutuhkan kesabaran serta kerja keras dari seluruh warga sekolah dalam membentuk karakter peserta didik yang beragam.

6. Faktor Pendukung Pelaksanaan Pendidikan Karakter di SMK
Keberhasilan pelaksanaan pendidikan karakter di SMK tidaklah lepas dari beberapa faktor pendukung sebagai berikut :

  1. Dari segi kebijakan pemerintah, dana, sumberdaya manusia (SDM), sarana dan prasarana atau fasilitas sekolah yang mendukung pelaksanaan pendidikan karakter memudahkan sekolah untuk menjalankan kebijakan dan langkah yang di ambil dalam pelaksanaan pendidikan karakter.
  2. Kegiatan yang sudah terprogram, bapak/ibu guru sudah mulai melaksanakan, sosialisasi pendidikan karakter dan dukungan dari pengawas sekolah.
  3. Situasi yang kondusif, dukungan dari semua warga sekolah, tempat yang tersedia atau layak, hal ini memudahkan pelaksanaan pendidikan karakter di SMK.
  4. Dari sarana dan prasarana, sumberdaya manusia (SDM), kepemimpinan, dan keteladan dari para guru sangat membantu pelaksanaan pendidikan karakter.
  5. Kondisi lingkungan yang kondusif, serta dukungan dari seluruh warga sekolah.

 

Saran

Berdasarkan kesimpulan hasil penelitian yang telah diuraikan di atas, maka dapat diajukan beberapa saran yang berguna bagi peningkatan pelaksanaan pendidikan karakter di SMK. Berikut beberapa saran yang dapat diajukan dalam penelitian ini diantaranya :

  1. Pihak sekolah diharapkan dapat mengupayakan peningkatan pemahaman orang tua siswa terhadap pendidikan karakter terutama di lingkungan keluarga, karena mengingat kontrol sekolah yang terbatas. Hal ini dapat dilakukan dengan meningkatkan peran orang tua dalam pendidikan karakter, baik di lingkungan keluarga maupun masyarakat. Sehingga diharapkan peserta didik dapat memiliki karakter yang baik.
  2. Perlunya dukungan, perhatian, dan pengawasan dari orang tua dalam pembentukan karakter peserta didik. Karena pendidikan karakter bukan hanya tanggung jawab sekolah semata, melainkan tanggung jawab bersama agar apa yang diterapkan di sekolah bisa sejalan dengan lingkungan keluarga dan tempat tinggal.
  3. Penilaian pendidikan karakter tidak hanya dilakukan dalam kegiatan pembelajaran saja, akan tetapi di luar kegiatan pembelajaran seperti kegiatan ekstrakurikuler dan dan lainnya agar dapat mengetahui sejauh mana pencapaian pendidikan karakter.

 *) Lita Akhimelita, ST. M.Pd, Widyaiswara Muda, Departemen Mesin Konversi Energi, PPPPTK BMTI Bandung


DAFTAR PUSTAKA

Alex Agboola dan Kaun Chen Tsai, 2012, Bring Character Education into Classroom, European Journal Of Educational Research Vol. 1, No. 2, 163-170

Alicia M. Chapman, 2011, Implementing Character Education into School Curriculum, ESSAI, Vol. 9 [2011], Art. 11

Agus Wibowo. (2013). Manajemen Pendidikan Karakter di Sekolah. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Abna Hidayati, M.Zaim, Kasman Rukun, Darmansyah, 2014, The Development Of Character Education Curriculum For Elementary Student In West Sumatera, International Journal of Education and Research Vol. 2 No. 6 June 2014

___________.(2012). Pendidikan Karakter Strategi Membangun Karakter Bangsa Berperadaban. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Christopher Daryl Healea, 2006, Character Education with Resident Assistants: A Model for Developing Character on College Campuses, The Journal of Education 186.1 ® 2006 by the Trustees of Boston Utiiversity

Darcia Narvaez and Daniel K. Lapsley, 2009, Teaching Moral Character: Two Strategies for Teacher Education, Center for Ethical Education, University of Notre Dame

Darmiyati Zuchdi. dkk. (2009). Pendidikan Karakter dalam Prespektif Teori dan Praktik. Yogyakarta: UNY Press

_________.(2010). Pendidikan Karakter Dengan Pendekatan Komprehensip. Yogyakarta. UNY Press

Dharma Kesuma, dkk. (2012). Pendidikan Karakter Kajian Teori dan Praktek di Sekolah. Bandung: PT Remaja Rosda Karya

Derlina, Sabani, Satria Mihardi, 2015, Improved Characters and Student Learning Outcomes Through Development of Character Education Based General Physics Learning Model, Journal of Education and Practice, ISSN 2222-1735 (Paper) ISSN 2222-288X (Online), Vol.6, No.21, 2015

Doni Koesoema A. (2011). Pendidikan Karakter: Strategi Mendidik Anak di Zaman Global. Jakarta: Grasindo

__________.(2012). Pendidikan Karakter Utuh dan Menyeluruh. Yogyakarta: Kanisius

Dodds, Diane M., 2016, The Effects of Character Education on Social-Emotional Behavior. Masters of Arts in Education Action Research Papers. Paper 137

Dwi Siswoyo, dkk. (2008). Ilmu Pendidikan. Yogyakarta: Uny Press

Erich Yahner, 2016, Annotated Bibliography: Moral and Character Education (2014-2015), The Humane Society Institute for Science and Policy Animal Studies Repository

Heri Gunawan. (2012). Pendidikan Karakter Konsep dan Implementasi. Bandung: Alfabeta

Imam Sutomo, 2014, Modification of character education into akhlaq education for the global community life, Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies, Volume 4, Number 2, December 2014: 291-316

John M. Echols dan Hassan Shadly. (2006). Kamus Inggris Indonesia. Jakarta: PT Gramedia

Kementrian Pendidikan Nasional. (2010). Desain Induk Pendidikan Karakter. Jakarta: Kementrian Pendidikan Nasional Badan Penelitian dan Pengembangan Pusat Kurikulum dan Perbukuan

__________.(2010). Pengembangan Pendidikan Budaya Dan Karakter Bangsa Pedoman Sekolah. Jakarta: Kementrian Pendidikan Nasional Badan Penelitian dan Pengembangan Pusat Kurikulum dan Perbukuan

__________.(2011). Panduan Pelaksanaan Pendidikan Karakter. Jakarta: Kementrian Pendidikan Nasional Badan Penelitian dan Pengembangan Pusat Kurikulum dan Perbukuan.

__________.(2011). Pedoman Pelaksanaan Pendidikan Karakter (Berdasarkan Pengalaman di Satuan Pendidikan Rintisan). Jakarta: Kementrian Pendidikan Nasional Badan Penelitian dan Pengembangan Pusat Kurikulum dan Perbukuan

Koesoema Doni A.2010, Pendidikan Karakter: strategi mendidik anak di zaman global, Jakarta: Grasindo

Marzuki.(2011). Pengintegrasian Pendidikan Karakter dalam Pembelajaran di Sekolah. Makalah. FIS Universitas Negeri Yogyakarta

Moleong, Lexy J. (2011). Metodelogi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja Rosdakarya

Masnur Muslich. (2011). Pendidikan Karakter Menjawab Tantangan Krisis Multidimensional. Jakarta: Bumi Aksara.

Muchlas Samani dan Hariyanto. (2012). Konsep dan Model Pendidikan Karakter. Bandung: PT Remaja Rosdakarya

Mulyasa. (2011). Manajemen Pendidikan Karakter. Jakarta: Bumi Aksara

Nurla Isna Aunillah. (2011). Panduan Menerapkan Pendidikan Karakter di Sekolah. Yogyakarta: Laksana

Peraturan Presien Nomor: 87 Tahun 2017 tentang Penguatan Pendidikan Karakter

Purwati Anggraini dan Tuti Kusniarti, 2016, The Implementation of Character Education Model Based on Empowerment Theatre for Primary School Students, Journal of Education and Practice, ISSN 2222-1735 (Paper) ISSN 2222-288X (Online), Vol.7, No.1, 2016

Pusat Bahasa Depdiknas. (2008). Kamus Bahasa Indonesia. Jakarta: Tim Penyusun Pusat Bahasa

Saptono. (2011). Dimensi-Dimensi Pendidikan Karakter. Jakarta: Erlangga Group

Shelby Clark and Scott Seider, 2014, Engaging College Students and Cadets in Training Tomorrow’s Leaders of Character, Journal of College & Character, Volume 15, No. 4, November 2014

Sue Winton, 2008, Character Education: Implications for Critical Democracy, Ontario Institute for Studies in Education, University of Toronto, CANADA

Sugiyono. (2010). Metode Penelitian Bisnis. Bandung: Alfabeta

Suharsimi Arikunto. (2006). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan dan Praktik. Jakarta: PT. Rineka Cipta

Sukardi. (2007). Metodelogi Penelitian Pendidikan. Jakarta: PT Bumi Aksara

Thomas Lickona. (2013). Pendidikan Karakter Panduan Lengkap Mendidik Siswa Menjadi Pintar dan Baik. (Alih Bahasa: Lita S). Bandung: Nusa Media

Thompson, William G., 2002, The Effects of Character Education on Student Behavior. Electronic Theses and Dissertations. Paper 706. http://dc.etsu.edu/etd/706

Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

Wing Sze MAK, 2014, Evaluation of a Moral and Character Education Group for Primary School Students, Discovery – SS Student E-journal, Vol. 3, 2014, 142-164

Yahya Khan D. (2010). Pendidikan Karakter Berbasis Potensi Diri. Yogyakarta: Pelangi Publishing.



Pengirim :
Kembali ke Atas
Artikel Lainnya :
Silahkan Isi Komentar dari tulisan artikel diatas
Nama
E-mail
Komentar

Kode Verifikasi
                

Komentar :


   Kembali ke Atas