Cerdas Berkarakter: Kreatif dan Bekerja Keras Membangun Negeri

Teringat SMS “indah” dari teman kuliah sekitar tahun 2000-an. HP lama itu entah ke mana. Saya ingat ketika menuliskannya kembali di akun FB. Saya coba cari, alhamdulillah ketemu juga. Ternyata status itu posting pada 8 April 2010. Berarti sudah sepuluh tahun berlalu.

Begini SMS-nya, “Ketika kuminta pada Allah setangkai bunga segar, Ia memberiku kaktus berduri. Aku minta pada-Nya binatang mungil nan cantik, Ia memberiku ulat berbulu. Aku sempat protes dan kecewa. Namun, kemudian kaktus itu berbunga indah dan ulat itu pun berubah menjadi kupu-kupu cantik. Itulah jalan Allah yang indah pada waktunya. Allah memberikan apa yang kita butuhkan, bukan yang kita inginkan.”

Allah memang selalu memberikan yang terbaik untuk kita. Untuk sampai pada pemikirian itu, kita yang harus pandai-pandai memaknai setiap kejadian dalam kehidupan ini. Salah satu hal yang membantu saya menuju pemikiran tersebut adalah ketika mengikuti kuliah Filsafat sebagai Way of Life. Sebenarnya kuliah ini sudah masuk Episode II, tapi kali ini hati saya betul-betul terketuk. Saat itu, guru menerangkan perjalanan hidup Thomas Alfa Edison. Saya penasaran sehingga dalam perjalan pulang di kereta api, saya terus mencari informasi tentang Thomas Alfa Edison.

Dari hasi googling, Edison kecil hidupnya tidak terlalu bagus. Edison hanya bisa bersekolah selama tiga bulan. Menurut catatan sekolah, ia adalah murid yang paling tertinggal, bahkan dianggap tidak mempunyai bakat sama sekali. Keputusan gurunya ini membuat Edison banyak belajar di rumah bersama ibunya. Mungkin gurunya tidak mengetahui kelebihan Edison, yaitu keingintahuannya yang mendalam terhadap sesuatu sehingga masa kecilnya diisi dengan mencoba ini dan itu untuk memuaskan rasa ingin tahunya. Bahkan, hewan pun disembelih dan dibedahnya. Siapa yang menyangka bahwa pada usia 11 tahun, Edison dapat membangun laboratorium kimia sederhana di ruang bawah tanah milik ayahnya. Ini tentu sesuatu hal yang langka. Untuk melakukan percobaan dan penelitian yang memerlukan biaya besar, pada usia dua belas tahun Edison berjualan koran dan permen. Pada usia itu pula Edison kehilangan pendengarannya. Ada yang mengatakan bahwa itu faktor genetik karena saudara-saudaranya pun demikian. Walaupun ada pula yang menyatakan bahwa itu terjadi karena dipukul oleh kondektur kereta tempat ia berjualan. Ternyata Edison mensyukuri kesulitan pendengarannya karena hal itu membuatnya lebih mudah berkonsentrasi pada eksperimennya.

Singkat cerita, saat ini kita semua menikmati hasil eksperimen Thomas Alfa Edison. Semua usaha dan kemalangannya membuat dia bekerja keras sehingga membuahkan hasil yang gemilang sehingga bisa dinikmati oleh semua manusia. Ini adalah berkah dari yang Mahakuasa.

Ini semua jadi pelajaran untuk saya. Perjalanan hidup Thomas Alfa Edison adalah contoh nyata dari SMS teman saya itu. Hambatan dan kesulitan dalam hidupnya, kekurangannya, tidak membuatnya protes kepada yang Mahakuasa. Dia menerima semuanya dan membuatnya fokus pada kegemarannya. Rasa ingin tahunya yang kuat membuat Edison menjadi orang yang kreatif dan pekerja keras sehingga menjadi orang yang berhasil.

Ketika sekarang kita mengalami beberapa masalah yang sulit, bisa jadi ini adalah titian menuju kebahagiaan yang harus dijalani dengan semangat keikhlasan. Semoga cerita dan semangat Edison bisa terus memacu para insan pendidikan di Indonesia untuk terus berkarya membangun bangsa.(Artikel Pendidikan/Abr)

Beri penilaian untuk berita ini!